Pengobatan Hiv/Aids

PENGOBATAN Hiv/Aids

A.Medis
Di negara kita, karantina secara medis bagi pasien yang mengindap HIV kerap sekali tidak dapat dilakukan karena banyak faktor. Disisi lain, biaya pengobatan yang begitu mahal menyebabkan rumah sakit enggan untuk menerima perawatan tinggal dalam jangka waktu lama. Dengan mengalami penurunan kualitas hidupnya, setelah dirawat di rumah sakit hampir semua penderita meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS.

B.Obat-obatan

Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV:

Nucleoside revoerse transcriptse inhibtor.
• AZT (zidovudin)
• Ddl (didanosin)
• DdC(zalsitabin)
• D4t( stavudin )
• 3TC (lamivudin )
• Abakavir
• Non-nucleoside reverse transcriptase inhibtor
• Nevirapin
• Delavirdin
• Elvirenz
• Protease inhibtor
• Saquinavir
• Ritonavir
• indinavir
• Nelfinavir

Semua obat-obatan tersebut ditunjukan untuk mencegah reproduksi virus, sehingga memperlambat progresivitas penyakit. Dokter kadang sulit menetukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini . Tapi, penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam, darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan belum menunjukkan gejala apapun.

EFEK SAMPING OBAT-OBATAN

AZT, ddl, d4T dan ddc menyebabkan nyeri samping seperti abdomen, mual dan sakit kepala terutama (AZT). Pengguanan AZT terus-menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan Anemia. Ddl,ddc dan d4T bisa merusak saraf-saraf parifer. Ddl juga bisa merusak pankreas. Dalam kelompok neucleoside, 3TC mempunyai efek samping yang paling ringan. Sedangkan kelompok protease inhibitor menyebabkan efek samping mual, muntah, diare, dan gangguan perut.

Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, selain juga menyebabkan nyeri punggung hebat.(kolik renalis).

Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (Protease Punch).

Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah oportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dar 200 sel/Ml darah mendapatkan kombinasi terimetoprim dan sulfamatokstazatol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau mycrobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari menigitis kriptokokkal atau terinfeksi jamur candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita engan herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang.

Dengan perkembangan obat-obatan anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, Penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.

 


=====================================

>>> Buah Merah Untuk Pengobatan Hiv / Aids, Buah Merah Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Bagi Penderita HIV/AIDS, KLLIK DETAIL DISINI!
=====================================


This entry was posted in Obat Aids and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>